Kriteria Tuhan 21 Mei 2008
Posted by coolenha in it's islam.Tags: kriteria, kriteria Tuhan, sifat dalam teologi, sifat tuhan, teologi, Tuhan
trackback

*Artikel ini saya ambil dari majalah Al Qalam, yaitu sebuah majelis Mudzakarah yaang telah dibentuk oleh KMNTB-Bali di Cairo, Egypt.
Nampaknya judul artikel ini tidak relevan dengan dengan fakta, karena kriteria Tuhan belum diketahui mayoritas umat manusia sejak zaman dulu sampai detik ini. Mungkin karena hal itu tidak dipandang urgen atau signifikansinya belum dirasakan sekalipun oleh mereka yang sudah mengenalnya. konsep tentang kriteria Tuhan ini memang ini merupakan gagasan murni dari Maulana Syaikh Mukhtar Addusuqi Ra. (Syaikh Thariwah Dusuqiyah Muhammadiyah, sebuah Aliran Thariqah yang ada di cairo) dan belum berwujud pada zaman dahulu baik zaman Rasul, sahabat maupun tabi’in. Walau sebetulnya beliau hanya beristinbath melalui intisari kitab suci Al Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.
Sejumlah ilmuan terdahulu telah membuat kriteria Tuhan dengan cversi berbeda, namun kriteria gagasan mereka itu masih kontroversional, relatif dan ngambang. Seperti Tuhan itu harus kuat, mampu menciptakan, menyembuhkan, menghidupkan, mematikan, dan lain sebagainya. Realitanya Fir’aun juga punya kekuatan, sejumlah wali dan nabi juga mampu menciptakan, menyembuhkan dan mematikan, meskipun tidak sama dengan kekuatan Allah yang La Tanahi Laha. Tapi pada intinya sama, yaitu “Kekuatan”, “Mematikan”, “Menghiduokan” lalu apakah mereka juga disebut Tuhan yang sebenarnya?
Esensi dari konsep kriteria Tuhan sebenarnya telah tertanam secara praktis dalam keyakinan para pendahulu, hanya saja untuk menonjolkannya secara teoritasa kepada khalayak umat. Sekarang inilah saatnya tepat, terlebih setelah disaksikannya adegan-adegan tasyriq begitu hebohnya ditengah-tengah masyarakat muslim. Maulana Mukhtar Ad Dusuqi denga bijaksana meluncurkan senjata yang ampuh, yaitu “Kriteria Tuhan”
Gagasan Teologis itu lalu dipublikasikan melalui media-media massa Mesir seperti surat kabar Shautul Ummah yang saat itu dipimpin oleh Adil Homudah.
Dengan mengenal kriteria Tuhan yang disebut “MUqtadlayat Uluhiyah”, seorang Muslim tidak akan pernah goyah oleh tuduhan siapapun. Karena hal-hal prinsip dalam aqidah jika tidak dipelihara dengan sempurna, maka kebimbangan akan terus menghantui. Teori teori teologi yang telah diformulasi al Asy’ary dan Al Maturidi(peletak dasar ilmu tauhid) sampai saat ini sebenarnya sudah cukup menjadi pegangan andalan komunitas Aswaja. Namun sayngnya, teori-teori tersebut kerap kali sulit dimengerti umat jelata, tidak simpel dan tidak komprehensif. Bercampurnya kriteria Tuhan dalam sifat-sifat-Nya menjadi salah satu sesautu yang riskan, begitu juga perihal sifat 20 yang dilain tempat berkurang menjadi 13
Dari itu, umat amat berhajat pada sebuah konsep teologi kontempor yang steril dari sekte-sekte, simpel, instan, konprehensif, merupakan istinbath murni dari Al-qur’an dan assunnah, dan tidak dipengaruhi pemahaman nalar Yunani kuno.
Kriteria Tuhan juga telah penulis jelaskan pada acara tanya jawab keagamaan di Radio cool Mesir jum’at 9 november 2007 yang lalu. Namun, sekali lagi, kriteria Tuhan masih perlu dikenal kembali dan dihayati dengan baik. Dan bagi yang belum mengenalnya, tidak akan pernah menyesal atau merasa rugi setelah mengenalnya, justru akan bahagia dan selamat dari segala keraguan, kebimbiangn dan kehancuran aqidah yang beraneka warna.
Kriteria Tuhan tak lebih dari empat, al-Sabq, al-Ithlaq, al-Samardiyah dan ad-Dzatiah. Tidak banyak menguras pikiran, tapi sangat ampuh mengukuhkan iman. Kriteria pertama adalah bahwasanya tidak ada satupun yang mendahului Tuhan, baik zatnya, ism-Nya maupun sifat-Nya.
Keriteria yang kedua adalah bahwasanya Tuhan tidak ada akhir yang membatasi dzat-Nya baik ruang maupun waktu. Tidak ada pula yang membatasi asma’ dan sifat-sifat-Nya. Kriteria kedua ini disebut al-Ithlaq.
Kriteria ketiga adalah bahwasanya Tuhan tidak ada akhirnya, isim dan sifat-Nya pun tidak ada akhirnya, ini disebut al-Samardiyah.
Adapun kriteria ke empat adalah bahwasanya Tuhan tidak ada yang mempengaruhinya, tidak ada yang mengajari-Nya dan tidak ada yang memberi-Nya. Asma’ dan sifat-sifat kesempurnaan-Nya pun tidak tidak dipengaruhi, diberi dan atau diajari oleh selain-Nya. disebut sifat al-Dzatiyah.
Bila keempat kriteria diatas dimiliki oleh siapapun, maka dia adalah Tuhan yang patut disembah. Dan oleh karena itu tiada satupun memilikinya selain Allah SWT, maka dari itulah kita meyakini bahwa Tiada Tuhan selain Allah.
Selepas uraian diatas, maka ketuhanan Fir’aun semakin terbukti kepalsuannya. Fir’aun tidak memikiki keempat kriteria diatas, sayangnya kaumnya tidak mengetahui kriteria tersebut sehingga nekad menyembahnya.
Melalui empat kriteria diatas, lahirlah definisi syirik. Dimana syirik yang dimaksud disini adalah mempercayai bahwa keempat keriteria diatas dimiliki juga oleh selain Allah, sehingga penisbatannya kepada selain Allah merupakan sebuah kezaliman yang nyata.
Manusia yang sembarangan memfonis syirik kepada saudara seagamanya, adalah manusia yang sungguh dungu. Tidak lain karena ia buta terhadap keriteria Tuhan dan definisi syirik yang sebenarnya. Akibat dari kebodohan itu seseorang akan mudah menuduh saudaranya syirik. Contoh ziarah kubur dikatakan syirik, lalu adakah kuburan Allah sehingga menziarahinya adalah syirik? tuduhan syirik tak terkontrol itu justru dengan halus menjuruskan pelakunya ke lubang kufur dan dan syirik itu sendiri, dan tabpa ia sadari bahkan merasa beriman sendiri. Allah berfirman: “Dan sebagian besar dari mereka beriman kepada Allah melainkan mempersekutukan-Nya”
Ketika membaca ayat tentang nabi Isa yang menciptakan burung dengan izin Allah, sekelompok orang takut meyakini nabi Isa sebagai tuhan (khaliq), alasan mereka karena takut mengkuktuskan-Nya. Kelompok ini telah ingkar kepada Al-Qur’an karena meng-kholiq-an nabi Isa. Kelompok yang kedua dengan seger beriman bahwa nabi Isa adalah Tuhan, hanya karena ia mampu mencipta. kelompok kedua ini sudah tentu syirik sebab nekad menembah manusia.
Dua kelompok diatas adalah kelompok yang dungu, seorang muslim yang cerdas yang telah mengenal Allah dengan kriteria-Nya dengan baik, tidak takut meyakini Nabi sebagai khaliq, dan pada waktu yang sama dia tidak menuhankan-Nya sebab sifat khaliqnya terlepas dari kriteria tuhan. sifat khaliqnya nabi isa tidak mengandung Sabq, karena ia yang pertama kali mencipta, sifat khaliqnya tidak mengandung sifat ithlaq karena ia hanya mampu menciptakan burung saja. Beda dengan kekuasaan Allah yang mampu menciptakan segala-galanya. sifat khaliqnya isa tidak mengandung samardiyah karena telah atau akan berakbir pada masa kekhaliqannya. Menciptanya isa tidak mengandung dzat sebab telah diajari Tuhannya bagaimana mencipta.
Komentar»
No comments yet — be the first.