el Haramain Hasba Ra’yil Mutakharrijin 27 April 2008
Posted by coolenha in All About eNHa.Tags: MA NW Narmada, Nurul Haramain, PP.Nurul Haramain Narmada
trackback
UNTUK KALANGAN PERIBADI SAJA
Bismillahirramanirrahim, Allahumma La taj’alni minal mutakabbirin!
Ini hanyalah sebuah opini, tidak ada yang bisa menjaminnya salah dan benar! karena ini hanyalah sebuah luapan dari apa yang saya denger dan perhatikan.
Ada statement yang menarik selama saya berada di PP. Nurul Haramain entah sindiran atau memang mungkin bermaksud membangitkan semangat untuk ishlah, dan ini dari salah satu anggota komunitas pondok ini “Apa itu Haramain, tidak ada yang bisa dibanggakan selain komputer”.
Kalau tidak betul-betul cerdas mengartikan kalimat ini, pasti akan lebih dekat kepada penghinaan. Mungkin kurang bijak kalau kita mengatakan kalimat itu tanpa ada usaha untuk melakukan perbaikan-perbaikan. karena memang tidak ada yang sempurna, tapi bukankah kesempurnaan itu adalah ketidaksempurnaan yang diikuti dengan ishlah, perbaikan-perbaikan di segala bidang?
Menjadi Alumni eL Haramain adalah suatu kebanggaan bagi saya peribadi, entah bagaimana dengan alumni-alumni yang lain. Yang paling disesalkan adalah kalau sampai alumninya sendiri menyesal menjadi alumni pondok ini. selama masih nyantri di eL Haramain entah berapa kali saya medengar celoteh ketidak puasan dari santri pondok sendiri, misalkan kalimat, “Haramain…..Apa itu??? apa hebatnya?” kurang lebih seperti. ini yang sangat disesalkan, sungguh tidak ada sebersit niatpun dalam hatinya untuk mencintai pondok, peduli atau bahkan sekedar untuk mengabdikan diri.
Kurangnya kepedulian dan keseriusan…. itu saja! dalam berorganisasi misalnya. Haramain…jalan dan tidaknya disiplin bukankah 75% tergantung keaktifan organisasinya? walaupun saya akui sendiri selama menjadi organisasi tahun lalu di pondok ini, tingkat keaktifan sangat minim sekali, masih kembang-kempes….
tapi selalu ada niat untuk mengadakan perbaikan. Apalagi marhalah saya (06/07) bisa dibilang marhalah yang banyak masalah dan menimbulkan masalah
ada satu hal yang menjadi kebiasaan buruk yang sudah dianggap sunnah oleh keluarga besar pondok ini, yaitu kelas V(2 MA) dan kelas VI(3 MA) yang tidak pernah akur, ini selalu terjadi. tidak pernah ada kata akur bagi dua kubu ini, dan ini terjadi bukan hanya setahun dua tahun, tapi dari saya pertama kali menapakkan kaki di pondok ini, hingga ini sudah di anggap sunnah. Entah apa masalahnya, apakah karena kelas V sudah menganggap diri mereka cuma beda satu tingkat dengan kelas VI sehingga tak perlulah terlalu di turuti, ataukah kelas VI yang selalu mengandalkan keorganisasiannya dalam mengatur disiplin sehingga siapapun harus patuh dan menurut pada mereka. Tapi yang jelas, menurut pengamatan saya, ini terjadi karena antara kelas V dan VI pasti terjadi Gap(renggang). saling mengandalkan marhalah masing-masing hingga merendahkan marhalah lain, menganggap marhalah paling hebat dan lain-lain. hingga terjadilah Gap antara kedua marhalah. dan ini bukan sunnah pondok dan tidak boleh (haram mutlak) menjadi sunnah pondok! apa tidak cukup yang menjadi sunnah pondok hanya yang baik-baik saja, sehingga Gap kelas V dan VI pun harus di kira sunnah pondok juga? Bukankah sunnah secara etimologi berarti kebiasaan? jadi supaya tidak menjadi sunnah cukup meninggalkan kebiasaan-kebiasaan khan? Tinggalkan yang jelek dan saring yang baik, maksudnya walaupun baik tapi belum tentu cocok dengan situasi dan kondisi kita. sehingga yang baik pun perlu disaring juga, supaya seimbang.
Kembali ke topik ada sebuah kalimat “Haramain hanya bisa mengandalkan komputer saja”
Setiap orang bebas mengeluarkan pendapat, bisa baik dan bisa juga salah. bukankah salah dan betul itu hanya sebuah nilai? yang betul tinggal diperthankan dan yang salah tinggal diperbaiki, dan jelas diperlukan usaha-usaha yang keras untuk memperbaiki sesuatu. Memperbaiki kulkas tentu perlu usaha membongkar, mencari problemnya dan lain-lain. Apalagi meng-ishlah sebuah pondok pesantren yang artinya juga mengishlah komunitas yang berada disana yang pemikiran dan latar belakangnya berbeda. tidak ada yang sulit kalau kita bersama. motonya SBY khan “bersatu kita bisa”
Kalau dilihat sekilas, ada yang bertolak belakang di tubuh Haramain sendiri. ya memang tolak belakang atau perbedaan memang pasti ada, nah ini baru namanya “sunnah” Al Ikhtilaf Rohmah! tapi bukankah tidak terlalu Picik namanya kalau menjadikan perbedaan sebagai sebuah sarana untuk saling mencari kesalahan orang lain? tidak perlulah kita tutup-tutupi tentang saling mencari kesalahan, insya Allah niat saya hanya untuk pondok! saya mendoakan semoga pejuang-pejuang pondok kita selalu diberikan keikhlasan. Amien! Rasulullah adalah orang yang sealu mendapat petunjuk dari Allah, tapi beliau selalu mengajak para sahabat untuk berdiskusi tentang banyak hal. Umar juga khan pernah menegur Rasulullah ketika hendak menshalati seorang Yahudi? Apakah karena di tegur menghilangkan kekarimahan Rasul sebagai Akromul Basyar? tidak khan?
Oyaaaa…back lagi to, “Haramain hanya bisa membanggakan komputer”
sebenarnya simple saja maksud kalimat ini, kalau saya artikan secara gamblang akan berarti kurang lebih, “Haramain khan pondok pesantren, bukankah harus mengutamakan kitab kuning dari apapun? bukan mengutamakan komputer…….!!!” Mungkin kurang-lebih itu lah maksud yang ingin diutarakannya
kalau boleh mengomentari kalimat itu, haramain bukannya tidak memperhatikan pelajaran nahwu sharafnya, cuma butuh keseriusan dan keistiqomahan dalam menjalankannya. istiqomah memang sangat sulit. coba deh kita telusuri dari bawah, setiap pagi ada pemberian mufradat oleh organisasi, emang sih ada yang serius tapi kebanyakan yang asal-asalan. Yang serius pasti memberikan suatu yang lebih dan pasti ada persiapan yang matang, yang tidak serius hanya masuk untuk tanda tangan saja, kita tidak usah menutupi sesuatu yang perlu mendapat ishlah, ya khan?
Terus tenaga pengajar, masya Allah semoga Allah memberikan keikhlasan dan ganjaran pahala yang berlipat-lipat bagi mereka, bayangkan saja harus standby di pondok 24 jam…gaji kecil…teruzz tantangan keikhlasannya banyak, hanya orang-orang yang ikhlas yang bisa melakukan ini, apa lagi yang masih kuliah, harus rela tidak kuliah selama setahun, teruz yang sedang kuliah harus bolak-balik pondok setiap hari n n n n n masih banyak lagi, tapi saya yakin NIAT MEREKA BUKAN NGABDI DI PONDOK UNTUK KULIAH.. amin! karena bagaimanapun juga, pondok bukan sarana atau tempat singgah untuk kuliah. sehingga pondok dianak tirikan.
Mantan syaikhul Azhar pernah berkata dalam bukunya ‘jadul Haq’, “Jihad tertinggi pada masa sekarang ini adalah jihad dengan ilmu pengetahuan” ilmu pengetahuan selalu dikaitkan dengan teknologi modern, dan jarang sekali dikaitkan dengan menggali sumber ilmu dari sumber aslinya, yaitu Kutub islam! karena sudah menjadi sejarah yang tidak bisa dirubah kalau Barat juga belajar pada islam saat mereka dalam masa jahiliyah. Belajar dari sumbernya langsung! Yupz! dan tidak bisa dielakkan lagi kita perlu kemampuan dalam membaca kitab-kitab islam yang kebanyakan orang menyebutnya kitab kuning atau kitab gundul!
Masya Allah bukankah tingkatan kita masih berada pada tingkatan anak SD? kita khan masih dalam taraf berlatih supaya bisa membaca???? masih belajar membaca sama halnya dengan tingkatan SD, betul khan? sekali lagi kita tidak perlu berkelit dalam hal ini.
Mungkin memang perlu taktik dan cara yang lebih ampuh untuk membuat kita naik tingkat, ya..minimal bisa bacalah, meskipun baru tingkat SD..! Nah kayaknya sudah saatnya para guru SD lebih giat lagi dalam membimbing muridnya untuk bisa membaca? juga bagi para murid, sudah saatnya ne belajar yang rajin biar lancar membaca????
kalau serius dan istiqomah pasti bisa!
menulis ini bukan berarti si penulis sudah menjadi orang yang lancar membaca, cuma uneg-uneg
Menjadi santri Haramain harus bisa segalanya, ya walaupun tidak semuanya tapi minimal bisa melakukan banyak hal, itu khan tujuan pondok? apalagi kalau bukan untuk berjuang tanpa henti? Bisa menguasai teknologi Alhamdulillah, tapi alangkah seimbangnya kalau teknologi itu dibarengi dengan mental dan idealisme yang tinggi, dengan hati yang lembut, dan semangat yang berkobar, Perkataan-perkataan yang jauh dari umpatan, dengan itu suasana insya Allah pondok akan jadi lebih tentram? lebih lagi kalau disipilin yang dijalankan bukan lagi bertarap ‘lembaga’ jadi harus dipatok dulu, baru bisa jalan… heehhehehe, sering tertempel di etalase pondok sebuah kalimat yang berbunyi “seperti Abu Bakar yang berjiwa lembut, Tegas dan bersemangat seperti umar, Cerdas seperti Ali dan sopan dan pemalu seperti Utsman”.
rik..minta emailnya donk,
Najm khan? wah ahlan email aja di hi_enha@yahoo.com
al ah Idrik pasti lupa ama a’doqnya dulu di pondok yang tinggal di lembuak klo al ah idrik mo tw coba cek di http://www.friendster.com/dealova521
Assalamualaikum Wr.Wb.
Kenalkan terlebih dahulu, nama saya Abdurrahman, saya adalah salah seorang alumnus PonPes Nurul Haramain generasi awal (Assabiqunal Awwalun). Satu angkatan dulu cuma 18 orang, dengan fasilitas belajar yang sangat minim, kelas tidak berjendela, belajar dibawah pohon sawo, hanyya semangat yang kami miliki, Al-Magfurullah (Mamik Tuan Guru Juen, Al-Mukarrom Tuan Guru Mahalli dan semua para asatidz dan asatizah tidak pernag bosan memompa semangat kami). hingga dari kondisi yang sangat memprihatinkan itu kami bisa selesai dengan predikat memuaskan. Masih segar dalam ingatan bagaimana Tuan Guru Mahalli menemani kami untuk tes di MAKN Mataram saya, Suhaidi, Rohadi, dan Irma. Alhamdulillah semuanya lulus.
Sekali lagi, dalam kondisi yang amat terbatas itu, rasa bangga kami sebagai alumnus tdk pernah pudar bahkan sampai hari ini kebanggaan itu semakin tertanam, walaupun kini kami semua terpisah ditempat yang sangat jauh, kami tak pernah lupa dengan pondok tercinta. Kami bangga menjadi santri nurul haramain dan sampai sekarang kami masih menjadi bagian dari keluarga besar Nurul Haramain dan akan tetap seperti itu selamanya.
Itulah wujud terimakasih kami kepada Nurul Haramain, segalanya dimulai dari nurul haramain. Pertanyaan besarnya………..Bagaimana mungkin diantara antum ada yang tidak bangga menjadi santri Nurul Haramain. Tuan Guru selalu mentazkirah kita ” Jangan Lupa Kacang Akan Kulitnya” Ingat itu …………Untuk semua tuan guru di Nurul Haramian……Kami tetap santri yang selalu ikrom tipak pelinggih senamian.