jump to navigation

selayang pandang 27 April 2008

Posted by coolenha in Moment2 di Cairo.
Tags: , , ,
trackback

Selayang pandang kuliah di Al-Azhar

Pada mulanya Al-Azhar adalah sebuah masjid besar yang dibangun oleh panglima Jauhar Ash-Shiqilli pada tahun 970 M/359 H, atas perintah khalifah Mu’iz li Dinillah Ma’ad bin Al-Manshur 931-975 M/319-365 H, khalifah keempat dari dinasti Fatimiyah. Saat ini Al-Azhar merupakan universitas tertua di dunia yang telah banyak mengeluarkan ulama ternama diantaranya; Muhammad ‘Abduh, Jamaluudin Al-Afghani, Yusuf Qardhawi, begitu juga dengan pakar tafsir kita Prof. DR. Quraish Syihab. Masa keemasan Al-Azhar terjadi pada abad 9 H/15 M. Banyak ilmuwan dan ulama Islam bermunculan di Al-Azhar saat itu, seperti Ibnu Khaldun, Al-Farisi, As-Suyuthi, Al-’Aini, Al-Khawi, Abdul Latif Al-Baghdadi, Ibnu Khaliqan, Al-Maqrizi dan lainnya yang telah banyak mewariskan banyak ensiklopedi Arab. Usia seribu tahun lebih tentu saja banyak mengalami dinamika dan romantika. Walau uzur namun Al-Azhar tetap menjadi pavorit dan masih bisa dijadikan kiblat ilmu-ilmu Islam saat ini. Hal itu dapat dilihat dari antusiasnya para tholibul ‘ilmi dari penjuru dunia berdatangan ke negeri kinanah. Untuk wilayah Timur Tengah, rating tertinggi pelajar tanah air masih didominasi Mesir dengan universitas Al-Azharnya

Saat ini saja, ada sekitar 3000-an lebih mahasiswa kita yang belajar di Mesir, namun masih kalah jauh bila dibandingkan negara tetangga kita, Malaysia. Ada sekitar 7000-an lebih pelajar Malaysia di sini. Hal itu tidak mengherankan karena negara mereka memberikan dukungan moril dan materi kepada anak bangsanya. Pelajar Malaysia diberikan beasiswa pinjaman selama studi di sini. Berbeda dengan pemerintah kita, yang terkesan mempersulit birokrasi studi ke Al-Azhar. Padahal idealnya negara kita yang berpenduduk 220 juta lebih, lebih membutuhkan banyak ulama yang terjun di tanah air. Namun, jangan berkecil hati, walaupun sedikit, prestasi akademi anak Indonesia begitu menggembirakan bila dibandingkan dengan mereka. Mungkin karena hidup yang tidak terlalu berlebihan, lebih memacu semangat belajar yang giat.

Universitas (Jami’ah) Al-Azhar hanyalah salah satu lembaga resmi yang dimiliki Al-Azhar. Masih ada lembaga lainnya, seperti:

·              Lembaga Pendidikan Dasar dan Menengah (Al-Ma’ahid Al-Azhariyah).

·              Biro Kebudayaan dan Misi Islam (Idarah Ats-tsaqafah wal Bu’uts Al-Islamiyah).

·              Majlis Tinggi Al-Azhar (Al-Majlis Al-A’la lil Azhar).

·              Lembaga Riset Islam (Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyah).

·              Hai’ah Ighatsah Al-Islamiyah.

Al-Azhar bisa tetap terus eksis, tak lebih karena harta waqafnya. Baik sumbangan para dermawan dan muhsinin maupun dari waqaf abadinya. Pernah dahulu harta kekayaan Al-Azhar mencapai sepertiga harta kekayaan negara. Namun sejak waqafnya diambil alih pemerintah, banyak terjadi perubahan-perubahan signifikan. Saat ini Al-Azhar mempunya 3 rumah sakit universitas; Hussein Hospital, Zahra’ Hospital, dan Bab El-Syari’ah Hospital.

Lembaga Al-Azhar dipimpin oleh seorang figur sentral yang dinamakan Syeikh Al-Azhar Al-Akbar, saat ini dipimpin oleh Syeikh Dr. Sayyid Muhammad Thantawi. Sedangkan universitas Al-Azhar dipimpin oleh seorang rektor, yang saat ini ditangani oleh DR. Ahmad Thayyib.

Pada tahun-tahun terakhir ini Al-Azhar memberlakukan sistem Tawkil (pendaftaran dengan proses perwakilan). Jadi, calon mahasiswa cukup mengirimkan berkas-berkas pendaftaran kepada kakak kelas (mahasiswa Al-Azhar) di sini, nantinya mahasiswa tersebutlah yang mengurus pendaftaran calon mahasiswa itu. Setelah didaftarkan dan menerima tanda bukti pendaftaran, maka tanda bukti itu dikirimkan ke Indonesia. Dengan tanda bukti pendaftaran itu, Kedutaan Mesir di Indonesia baru memberikan visa entry.

Kampus putra dan putri terpisah, baik secara lokasi dan juga administrasinya. Kampus putri (Kulliyatul Banat) terletak di kawasan Nasr City (sebelah timur kota Kairo) atau sekitar 7 Km dari kampus putra yang berada di kawasan Husein.

Mahasiswa Melayu (Indonesia, Malaysia, Thailand, Brunei, dan Singapura) kebanyakan menetap agak berjauhan dari lokasi kampus putra dan dekat dengan lokasi kampus putri, yaitu daerah Nasr City. Karena sekitar kampus Al-Azhar putra di Hussein cukup ramai oleh lalu lintas dan pasar yang kurang mendukung suasana belajar.

Permukiman di Timur Tengah termasuk Mesir tidak seperti di Indonesia, yang kebanyakan berwujud rumah-rumah pribadi. Di sini mayoritas pembangunan berbentuk aparteman/flat yang didominasi warna kuning, warna gurun pasir. Sehingga kalau dilihat dari pesawat udara lebih menyerupai kardus balok berwarna kuning. Kehidupan warga Mesir sangat bergantung pada sungai Nil. Sungai itulah yang merupakan denyut nadi kehidupan di sini. Tak heran keseluruhan penduduk menetap di pinggiran sungai Nil. Karena selain itu, hanya merupakan daerah tandus, kawasan gurun pasir.

Satu flat biasanya dihuni 3-7 orang. Tergantung dari kapasitas flat tersebut. Harga sebuah flat juga bervariasi, mulai LE. 350 hingga LE. 600 per bulan (1 USD = LE. 6). Satu flat umumnya berisi dua atau empat kamar tidur, ruang tamu, dapur, balkon, kamar mandi, perkakas rumah serta kulkas dan kompor gas. Pada flat tertentu kadang dilengkapi dengan sarana telepon lokal, TV serta AC, tentu dengan harga sewa yang lebih dari standar biasa.

Masak sendiri adalah pilihan kebanyakan. Walaupun beberapa makanan Mesir sesuai dengan selera kita, namun tidak mungkin terus-terusan kita mengkonsumsi makanan Mesir. Selain hemat biaya juga rasanya lebih memuaskan bila masak sendiri. Biasanya sebuah rumah akan membuat jadwal masak rutin. Jangan khawatir kalau tidak bisa masak. Setelah di sini, seiring berjalannya waktu, Insya Allah Anda bisa mencicipi masakan sendiri. Di sekitar permukiman pelajar Asia tenggara juga banyak berdiri warung makan Indonesia, Malaysia dan Thailand.

Situasi keamanan di Mesir cukup baik. Terlebih terhadap pelajar asing. Insya Allah kondusif buat suasana belajar. Iklim di sini cukup stabil, terdiri dari musim panas dan dingin. Pada puncaknya musim panas bisa mencapai 480 Celcius dan musim dingin hingga 30 Celcius. Untuk mengantisipasi adaptasi iklim yang berbeda, dianjurkan untuk membawa jaket tebal dan obat-obatan, balsem, minyak kayu putih dll.

Sebaiknya bagi pelajar asing tidak memasang niat ‘belajar sambil bekerja’, karena akan mengurangi kesempatan untuk meraih ilmu sebanyak-banyaknya. Apalagi kesempatan kerja di Mesir tidak terbuka buat orang asing, terlebih mahasiswa. Karena visa kita merupakan visa pelajar. Namun walau begitu ada juga yang bekerja sambilan yang tidak terlalu memporsir energi belajar. Seperti operator warnet, pelayan di warung makan, membuka jasa jahit pakaian, katering makanan, dan menjajakan makanan ringan ke rumah-rumah. Ada juga yang menterjemahkan buku-buku Arab untuk diterbitkan di Indonesia. Namun, fenomena bekerja sangat minim didapati. Jadi, lebih baik konsentrasikan pada niat awal ke Mesir.

Hemat-hematlah dalam biaya hidup. Walaupun pada dasarnya Al-Azhar memberikan kuliah gratis pada seluruh pelajar asing, dan hanya perlu mengeluarkan biaya membeli buku-buku kuliah, diktat dan pembuatan kartu mahasiswa, namun tetap berhematlah. Jangan terpesona dan berhambur-hamburan dalam menggunakan uang. Seperti baru tiba di Mesir, langsung menggebu-gebu ingin melihat panorama Mesir. Melihat Piramida, sungai Nil, museum mumy Fir’aun, Terusan Suez, pantai Aleksandria, Syarm Syikh, Dahhab, kawasan wisata Luxor dll. Jangan khawatir, rihlah wisata seperti itu nantinya ada sendiri setelah ujian, pada musim liburan.

Bagi pelajar non beasiswa memerlukan biaya hidup per bulan sekitar 70 Dollar. Hitung-hitungan itu sudah meliputi biaya sewa flat, makan, transportasi selama berpergian, membeli diktat kuliah, dan buku-buku bacaan lainnya serta kebutuhan pribadi. Uang 70 dollar itu menurut mayoritas mahasiswa sudah lebih dari cukup (bagi yang menghemat lo). Tapi terkadang kalau mau mendekati ujian dan membutuhkan ketenangan dalam belajar, lebih baik kita sewa flat baru yang anggotanya lebih sedikit, ya 2 atau tiga orang. Dengan begitu diperlukakn biaya yang lebih besar lagi. Dan baru-baru (April 2008) ini harga bahan pokok di Cairo sedang melejit jadi mungkin normalnya bagi yang non beasiswa menyiapkan sekitar U$70-100. Adapun tentang beasiswa, di Mesir ada beberapa lembaga yang menyediakan beasiswa untuk mahasiswa asing, baik itu dari pemerintah sendiri maupun lembaga lain yang membuka cabang di Kairo. Tapi semua itu tidak bisa diharapkan sepenuhnya, mengingat jumlah pendaftarnya yang banyak dan bersifat “untung-untungan”, dan kadang dalam jumlah pas-pasan. Lembaga-lembaga itu antara lain: Al-Azhar (minhah Al-Azhar), LE. 162 per bulan. World Assembly Moslem Youth (WAMY). Kantor cabangnya di kawasan Ighatsah. Jumlah beasiswa pe bulan LE. 250. Majlis A’la li Syu’un Al-Islamiyah. Berada di kawasan Tahrir. Beasiswanya LE. 165 per bulan. Adapun setibanya di Mesir, pendaftaran permohonan beasiswa itu bisa diurus sendiri-sendiri.

Sistem kuliah di Al-Azhar tidak mengenal SKS. Al-Azhar memberikan dispensasi ketidaklulusan hanya sebanyak dua materi dari 11-18 materi tiap tingkatnya (tergantung jurusannya). Seorang pelajar tidak bisa mengikuti tingkat selanjutnya jika materi ketidaklulusannya lebih dari dua materi, dan harus mengulangi materi sisa tersebut pada tahun berikutnya. Kuliah kebanyakan masih menganut sistem presentasi (ceramah). Kita datang ke kuliah dan duduk mendengarkan dosen (duktur) menerangkan. Bahasa arab dipergunakan sebagai pengantar kuliah. Budaya diskusi belum begitu digalakkan di perkuliahan Al-Azhar pada tingkat strata I, berbeda dengan strata II (magister). Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa benar-benar mengambil intisari keterangan pengajar. Maklumlah, mayoritas pengajar di Al-Azhar bergelar Prof atau DR. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pelajar-pelajar membentuk sendiri kajian intesif. Tak ketinggalan mahasiswa Indonesia, bisa dikatakan ada ratusan kelompok diskusi bertebaran di sini. Masing-masing mahasiswa paling tidak mempunyai kelompok diskusi di kekeluargaan asal daerahnya. Kegiatan keintelektualan di sini sangat marak. Hampir setiap saat ada simposium, seminar, diskusi panel, ceramah umum. Sering juga mengundang ilmuwan Arab dan kadang kala menghadirkan tokokh-tokoh dari tanah air. Tergantung kecendrungan dan minat jurusan masing-masing.

Hafalan Al-Qur’an cukup diperhatikan di Al-Azhar. Masing-masing tingkat diharuskan menghafal 2 juz. Ini berlaku untuk semua jurusan, baik ‘ilmi (umum) maupun adaby (agama). Sehingga ketika lulus strata I (Lc) diharapkan sudah menghafal 8 juz. Sekali lagi, bulatkan tekad benar-benar tholabul ‘ilmi. Insya Allah kalau niat dan kesungguhan sudah total, segala rintangan dan kendala-kendala kecil tidak dirasakan. Asal mau giat belajar, segalanya bisa dicapai. Banyak mahasiswa yang dulunya ketika datang ke sini tidak bisa apa-apa. Tapi setelah beberapa bulan telah mampu berbahasa arab fushah dan ‘amiyah (pasaran), telah mampu membaca kitab-kitab turats maupun kontemporer yang berbahasa arab, dan tentu saja prestasi akademiknya berhasil. Namun tidak sedikit yang dahulu di Indonesia cukup berprestasi, tapi ketika di sini tidak naik tingkat dan selalu mengulang dikarenakan terlena dan terlalu meremehkan.

Sebelum memutuskan fakultas dan jurusan yang dikehendaki, hendaklah berpikir matang-matang. Jangan sampai setelah berjalan di tengah jalan, mengeluh dan merasa salah pilih jurusan. Semuanya kembali kepada kecendrungan masing-masing, apakah ingin mendalami Studi Islam, Tafsir, Hadits, Aqidah Filsafat, Syari’ah, Hukum Islam, Bahasa Arab, Sejarah, Budaya, Pendidikan maupun Psikologi. Universitas Al-Azhar membuka jurusan umum dan agama. Namun mayoritas pelajar tanah air memilih fakultas Ushuluddin, Syari’ah dan Lughah ‘Arabiyah. Walaupun ada juga beberapa yang memilih jurusan Psikologi, Sejarah dan Kebudayaan, Tarbiyah.

sumber : http://www.geocities.com/azh4r04/daftar.htm

.

 

Komentar»

No comments yet — be the first.